Pages

Saturday, November 12, 2011

Hari Yang Sulit..

Bismillah....
Apa jadinya mobil sport dipake di medan offroad??? eng ing eng... siap2 nangis deh... huhuhu....tadi siang kita sekeluarga ke Bangkalan Madura niatnya mo sowan ke rumahnya rewang mba Mar nengok anaknya skalian nitip sedikit sembako ma peralatan sekolah. Berangkatnya setelah Kenzie bangun tidur. Bangunnya jam1 siang langsung berangkat. Kenzie maemnya di mobil aja biar ga keburu sore. Bismillah.. Start... sebentar kemudian udah nyampe Suramadu. Ramai lancar lah... Mobil terus melaju cukup lama kurasa sampe si mba bilang belok kiri pas di jalan setapak yang lebarnya kira-kira cuma 2 meter dan di kiri kanan jalan terhampar sawah.

Suami tanya : 'ini dari sini (pas belokan awal) dekat ya?'
Mba : 'Iya'
ya udah mobil jalan pelaan banget soalnya jalannya sempit salah dikit bisa kecebur sawah. sebenarnya dalam hati udah ga nyaman ma agak kuatir tapi karena kata mbak nya deket ya udah ntar juga sampe.
uda jalan kira-kira 300 meter ternyata jalannya malah makin sempit dikiri kanan rumah-rumah penduduk udah gitu full batu-batu besar ma semak-semak. Perasaan makin ga nyaman nih. kulirik suamiku dan ida sama gak nyamannya denganku. Ketika ditanya lagi masih jauh pa deket kata mbaknya udah deket.. Ya udah jalan lagi tapi pelan banget karena jalan bener2 sempit dan harus ekstra hati-hati. Lagian mo muter balik atau jala mundur pun mustahil...justru bahaya. Kiri kanan jalan kadang rumah penduduk, trus melewati sawah, trus bukit tebing yang dipenuhi semak-semak kadang rata kadangan menanjak kandang menurun tajam. Makin maju bukannya tambah lega tapi tambah membahayakan. Kenzie anakku sudah ga betah dia rewel skali. Kesabaran bener-bener diuji tapi pikiran harus tetap jernih supaya tetap bisa mengendalikan mobil dengan tenang dan terkontrol.

Di suatu titik tiba-tiba jalannya menanjak tajam dan berbatu besar.. melihat ke atas rasanya mo putus asa tapi tak ada jalan lain kecuali maju. Kusemangati suamiku kulantunkan doa sembari memohon kemudahan. 2 rewangku kuminta turun jalan di depan mobil kusuruh menyingkirkan batu-batu besar yang bisa disingkirkan entah bagaimana caranya karena batu itu kokoh menancap di tanah. Aku dan suami stress. Tapi hati harus dipaksakan tabah.

Bismillah...Masuk gigi satu injak pedal gas kuat-kuat sambil memasukkan setengah kopling untuk menahan loncatan. Mesin mobil menggerung keras.. tiba-tiba mobil mundur tajam seketeuika aku teriak rem!... Mobil ga kuat naik. Senyap... kulihat anakku digendong jauh di arah depan mobil. dia sedikit terhibur setelah keluar dari mobil, mungkin dia bosan. Alhamdulillah pikirku... dan Bismillah.. coba lagi.. mobil menggerung keras lagi, kulihat suamiku tak mau menyerah.. salut atas sikap tenangnya.. dan berhasil!.. Tapi saat itu juga mobil mengeluarkan bau sangit... deg!....Ya Alloh.. suami  bilang ' nduk.. kampas koplingnya sepertinya terbakar, gak kuat dipake nanjak berbatu tadi..' aku diem aja sambil berpikir.

ada penduduk lewat kita tanya jalan seperti ini masih berapa jauh lagi ada yang sekedar bilang ya lumayan jauh mbak, ada juga yang ngasih penjelasan arah kira-kira jalan aspal masi sekitar 500 meter lagi. Batinku 500 meter dengan jalan seperti ini akan terasa seperti 3 km. Tapi aku berusaha optimis.

Karena kuatir dengan kondisi mobil dan hari sudah mulai gelap.. jam 5 sore woii!... 1,5 jam bertarung dengan alam sepanjang 1 km... ffffhhh... 2 rewangku kusuruh jalan kaki saja ke rumahnya nganter sembako, peralatn sekolah skalian nengok anaknya. Kenzie kuijinkan ikut tapi digendong. Mbaknya bilang masih jauh tapi aku ga peduli, aku tegaskan dengan tampang marah bilang 'kamu jalan kaki atau kita pulang skarang! cepet! dan begitu sampe rumah lansgung balik karena hari udah mulai gelap' 

aku dan suami menunggu di sudut tebing yang sedikit lapang sambil memikirkan cara mobil berbalik arah 180 derajat karena arah jalan pulang ada di arah belakang posisi mobil. Sambil menunggu mereka kembali aku dan suami berpikir keras memutar arah mobil. aku turun dan membantu memandu suami memutar arah mobil dan akhirnya bisa.

Sebentar kemudian mereka udah kembali dan gerimis mulai turun. Ya Alloh tolonglah kami, kalo gerimis turun jalanan akan sangat becek dan mobil tidak akan bisa jalan. Pikiran-pikiran buruk mulai melintas sana-sini. Kulawan kuat-kuat dengan doa dan istighfar serta syukur atas kemudahan hingga detik ini. Aku berteriak memacu mereka yang masih berjalan di bawah sana untuk segera bergegas naik. Kenzie nangis.. mungkin dia capek dan bosan aku kasian.. kupangku dia tapi tetap gak mau diam dan mobil mulai jalan maju pelan-pelan sambil mengikuti arah yang sudah ditunjukkan salah satu penduduk di sekitar situ. Aku dan suami sudah lelah dan sangat marah.. tak mau percaya lagi ma omongan mba Mar yang katanya jaraknya dekat tapi ternyata jauh. Jalan masih tetap berbatu dan bersemak naik turun tapi alhamdulillah jauh lebih mulus dari yang sebelumnya hanya banyak semaknya saja. Dan tidak berapa lama didepan sana arah menurun tampak jalan beraspal. Seketika bersorak dan bersyukur... Ya Alloh Segala Puji Bagi-Mu semua atas kemudahan-Mu...

Memasuki jalan beraspal semua dimobil diam. Mungkin masing-masing sibuk merenungi perjalanan tadi. Suami bilang dengan tegas ke mbak nya..'kalo ngasih petunjuk jalan yang benar dong mba, jangan bilang bisa.. bisa.. tapi ternyata kayak gitu itu tadi namanya mobil ga bisa lewat, kalo ada apa-apa gimana'
Aku tau suamiku sangat marah tapi sekali lagi aku salut atas sikap tenang dan pengendalian dirinya.  Aku ikut memarahi mbaknya... aku kesal banget saking kesalnya nahan marah airmataku menetes. Seketika ku teringat hadist Rasulullah saw:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَوْصِنِي، قَالَ : لاَ تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَاراً، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ
[رواه البخاري]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu sesungguhnya seseorang bertanya kepada Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam : (Ya Rasulullah) nasihatilah saya. Beliau bersabda : Jangan kamu marah. Beliau menanyakan hal itu berkali-kali. Maka beliau bersabda : Jangan engkau marah.
(Riwayat Bukhori )

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda : Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan hatiku perlahan mulai tenang...
perjalanan kembali pulang alhmdulillah lancar.. sesampainya di rumah  suami aku bergegas mandi sementara anakku Kenzie makan karena dia sejak di mobil sudah minta makan. Ah terima kasih anakku hari ini kau ikut tangguh melewati kesulitan. Selesai mandi kulihat suami masih di garasi mobil sibuk mengamati body mobil. Kususul ke depan kulihat dia sedih dan menyesal mengingat kejadian tadi. Body mobil menunjukkan garis-garis halus bekas sabetan semak yang tidak sedikit. Sayang banget... kulihat wajahnya memerah menahan rasa dan amarah. Dia berusaha melawannya. Kuhibur dia 'sudahlah, sudah berlalu, alhamdulillah kita diberi kemudahan hingga kembali ke rumah dengan selamat'. Ah suamiku... suami yang sabar, tabah, tenang dan terkendali. Dalam diamku, sku selalu salut dengan sikapmu.

Malam semakin beranjak, tubuh penat meminta haknya untuk direbahkan.. dan Segala puji bagi Alloh atas segala sesuatu...

Dalam surat Alam Nasyroh, Allah Ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 5)
Ayat ini pun diulang setelah itu,
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. An Nasyr: 6)

No comments: