Pages

Friday, March 22, 2013

Resensi Novel Terjemahan 'Ginko"

Judul : Ginko

Pengarang: Jun’ichi Watanabe

Penerbit : Serambi

Halaman : 462 Hal

Harga : 50.100 (sudah diskon 15%)

Seperti judul bukunya, Ginko adalah gambaran sosok seorang dokter perempuan pertama di Jepang. Novel ini adalah novel biografi dengan sentuhan sosial budaya.

Ceritanya sangat menyentuh, Ginko Ogino, itulah namanya. Seorang gadis yang cantik, cerdas dan bungsu dari 6 bersaudara.
Terlahir dari keluarga kelas atas Ogino di desa Tawarase.

Ginko gemar belajar dan membaca, sesuatu yang diyakini tabu oleh masyarakat pada masa itu. Karena kehormatan wanita ada pada pengabdiannya pada keluarga dan suaminya.

Ginko kemudian dinikahkan oleh orangtuanya dengan Kanichiro dari keluarga Inamura yang juga keluarga terhormat pada usianya yang ke-16.
Ginko kemudian tinggal bersama suaminya. Tak berapa lama tersiar kabar perceraian Ginko. Dia kembali ke rumahnya di desa Tawarase dalam keadaan sakit.
Ia pun mengurung diri di rumahnya untuk memulihkan kesehatannya.
Tidak banyak yang tahu ternyata Ginko tertular penyakit kelamin Gonorrhea dari suaminya. Ginko memutuskan menolak kembali ke suaminya. Hal yang tak lazim pada masa itu.

Ginko pun menanggung malu akibat perceraian itu dan semakin menderita ketika tahu bahwa penyakit yang dianggap aib itu hanya bisa ditangani oleh dokter laki-laki karena memang pada saat itu tidak ada dokter perempuan di Jepang. Ginko merasa dipermalukan ketika diperiksa oleh dokter terkenal di Tokyo dibawah tatapan mahasiswa kedokteran lain yang juga mempelajari penyakit Ginko.
Dia tertekan hingga suatu ketika Ginko memutuskan bangkit dari kesedihan dan menemukan tekad dalam hatinya untuk mejadi dokter demi rasa solidaritasnya terhadap sesame perempuan.

Novel ini berlatar belakang awal pemerintahan Meiji. Pada saat itu meraih profesi dokter sangatlah suit bahkan bagi laki-laki. Cita-cita Ginko terbilang mustahil, meskipun dia sangat cerdas. Tapi justru itu tak membuat Ginko gentar.
Pengorbanannya sungguh besar, Ginko tak mendapat restu dari keluarga, dia ditentang habis-habisan oleh keluarga, di cemooh oleh tetangga.

Ginko berangkat ke Tokyo memulai perjalanannya dengan belajar pada seorang cendekiawan ternama, Yorikuni atas saran dr Mannen, dokter keluarga Ogino. Selama belajar di sini ada kisah kasih antara Ginko dan Yorikuni . Ginko lulus dengan predikat terbaik.

Ginko pun melanjutkan ke Sekolah Guru Perempuan, pun lulus dengan prestasi gemilang. Hingga pada akhirnya Ginko menemukan jalan untuk sekolah di Universitas Kedokteran Kojuin, dan dia satu-satunya perempuan yang kuliah.
Ginko pun sering mengalami pelecehan oleh para lelaki.

Namun dia tidak mudah menyerah. Dia sudah memutuskan untuk menjalaninya apapun yang terjadi.

Ginko memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan menjadi guru les untuk anak-anak Tokyo dari beberapa keluarga kaya. Perjalanan Ginko tidak mudah, penyakit gonorrhea yang kadang-kadang kambuh, Ibunya yang meninggal, biaya keutuhan sehari-hari dan membeli buku yang selalu kurang, menghadapi mahasiswa-mahasiswa brengsek, menghadapi birokrasi yang mendiskriminasikan perempuan, pelecehan demi pelecehan.

Namun semuanya terbayar lunas ketika dia menjadi seorang dokter.

Ginko juga memulai kehidupan barunya dengan menikahi seorang pemuda bernama Shikata yang jauh lebih muda darinya. Pernikahan yang ditentang oleh banyak orang, pernikahan kedua Ginko yang tidak bahagia.

Kisah novel ini menceritakan kegigihan,kemauan yang keras, tapi ada beberapa bagian yang kurang menarik menurut saya. Tapi overall bagus, mengharukan.

No comments: